Pengamat Energi dari Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto menilai sebenarnya rencana kenaikan harga BBM subsidi tidak perlu selalu dikaitkan dengan harga minyak internasional. Namun, dia menyatakan sebaiknya kenaikan tidak sebesar yang diwacanakan yakni Rp 3000 per liter.
“Karena harga BBM keekonomian di level sekarang hanya Rp 8500 per liter, maksimal kenaikan Rp 2000 per liter dengan harga keekonomian sekarang. Kalau naik Rp 2000 sebetulnya tahun depan kita sudah lepas dari subsidi,” ungkapnya di Jakarta.
Dia menghitung harga BBM keekonomian sebesar Rp 8500 dengan nilai tukar Rupiah di kisaran Rp 12000 per dolar AS dan harga minyak dunia sekitar 80 dolar AS per barel.
“Makanya jangan sampai melebihi Rp 2000. Kalau naik Rp 2000 harga yang berlaku berarti ngga ada unsur subsidi. Demi kepentingan APBN 2015, subsidi BBM bisa dialihkan untuk anggaran yang lebih produktif. Ada kelonggaran fiskal yang luar biasa,” tambahnya.
Menurutnya, berapa besaran kenaikan tergantung niat pemerintah apakah benar-benar akan mengurangi atau mencabut subsidi BBM. Dari sisi inflasi, paparnya, jika harga naik Rp 1000 maka akan ada tambahan inflasi sebesar 1%. Kemudian jika harga BBM naik Rp 2000 maka akan ada tambahan inflasi sekitar 1,5%.(wt-suara merdeka)
Dapatkan Berita Terupdate dari JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.
Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.
Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia


