![]() |
| drg Andi Fatahuddin saat gelar rapat penaganan korban banjir |
Jajaran Puskesmas Sappa saat sudah siap siaga melayani pasien terhadap munculnya penyakit pasca banjir. Meskipun, hingga hari ketujuh pasca banjir. Pihaknya belum menerima pasien dari ketiga desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Sappa. Selain itu pihak Puskesmas Sappa terus berkoordinasi dan menunggu hasil pantauan dari ketiga kepala desa yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Sappa.
"Belum ada yang berobat. Tadi siang saya juga baru memantau ke beberapa titik lokasi banjir, dan langsung melakukan rapat lintas sektor dengan Camat Belawa, Kades Wele, Kades Sappa, dan Kades Ongko`e, kita akan tentukan di titik mana yang rawan dan secepatnya bakal menurunkan petugas kesehatan." aku Kepala Puskesmas Sappa, Andi Fatahuddin. Kamis 11 Juni 2015.
Dijelaskan Andi Fatahuddin. Namanya petugas kesehatan ada atau tidaknya yang berobat itu hal kedua. Yang paling utama adalah menyiapkan layanan kesehatan, jika sudah terindikasi potensi munculnya penyakit. Penyakit yang rawan dari dampak banjir biasanya seperti penyakit Infeksi saluran pencernaan Penyakit infeksi saluran pencernaan dengan gejala demam, diare, dan muntah sering ditularkan melalui air
Yang kedua, Penyakit kulit Kulit merupakan salah satu organ yang rentan terhadap air banjir. Jika tak mengenakan alas kaki yang kuat, kulit bisa terluka karena terinjak pecahan kaca atau benda-benda keras. Lingkungan yang kotor dan basah dapat mengakibatkan luka terinfeksi, gatal-gatal, dan iritasi.
Yang ketiga, Infeksi mata Penyakit infeksi mata yang dapat ditularkan melalui air adalah moluskum kontagiosum dan konjungtivitis (adenovirus)
Yang keempat, Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) Kondisi yang dingin, basah, dan lembap bisa menyebabkan gangguan saluran pernapasan. Infeksi saluran pernapasan yang bisa ditularkan melalui air adalah faringokonjungtiva (infeksi tenggorok).
Dan yang kelima, Leptospirosis merupakan infeksi yang disebabkan kuman leptospira juga dapat ditularkan lewat air seni atau bangkai tikus. Binatang lain seperti anjing, kucing, dan kuda pun bisa menularkan penyakit ini. Gejalanya antara lain panas, muntah-muntah, diare, dan nyeri tulang. Penanganan yang terlambat akan menyebabkan gangguan pada otak atau meningitis.
"Terakhir , Campak dan cacar air Gejala campak antara lain batuk, demam berhari-hari, dan beberapa hari setelahnya. Sekarang posko kesehatan tanggap bencana sejak tadi siang sudah ditetapkan di Puskesmas Sappa untuk 3 wilayah desa covering kami," jelas Andi Fatahuddin.(wt-chal)
Dapatkan Berita Terupdate dari JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.
Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.
Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia


