![]() |
| Jualan Buah-buahan di Pelataran Terminal Callaccu |
"Biasanya saya dapat penjualan Rp1 juta per hari, tapi semenjak adanya isu tersebut penjual hanya Rp500 ribu,"katanya.
Kendati belum mendapat teguran dari pemerintah, tambah Fatima, semenjak ada isu apel berbakteri, dia tak pernah lagi memesan dua jenis apel tersebut."Memang saya pernah menjual dua jenis apel itu. Tapi semenjak ada isu apel berbakteri saya tidak ambil lagi,"ujarnya.
Senada, penjual buah lainnya, Muna mengaku, isu apel berbakteri sangat berpengaruh dengan penjualan. Pasalnya, masyarakat takut membeli apel."Kami dirugikan sekali dengan isu itu. Penjualan kami menurun drastis,"ujarnya.
Sementara Sekretaris Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar, Arsal mengaku, sudah menyampaikan kepada para pedagang untuk tidak menjual dua jenis apel tersebut."Kalau sidak kami belum lakukan. Tapi kami sudah sampaikan kepada pedagang untuk tidak menjual dua jenis apel tersebut,"tegasnya.
Berbeda halnya dengan pedagang lapak, berdasarkan investigasi di sejumlah swalayan pasar modern, masih ditemukan peredaran apel yang berlogo impor tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Wajo, dr Baso Rahmanuddin, ungkap kesiapannya untuk melakukan razia buah-buahan impor yang diduga mengandung bakteri mematikan tersebut.(wt-chiwan).
Dapatkan Berita Terupdate dari JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.
Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia
Hak Jawab dan Hak Koreksi melalui email: jbnredaksi@gmail.com
- Pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan ini dapat mengajukan sanggahan/hak jawab.
- Masyarakat pembaca dapat mengajukan koreksi terhadap pemberitaan yang keliru.
Follow Instagram @jbnindonesia dan Fanspage JBN Indonesia


